|
Konservasi Penyu yang terdapat di pantai Samas, Bantul, Yogyakarta yang pada saat ini ditangani oleh bapak Rujito, salah satu penduduk di desa Sri Gading, Samas, Bantul ada lebih dari 80 ekor. Penyu-penyu yang menetas dari telurnya dalam waktu 50 hari ini masih berumur kurang dari 1 bulan dan dipelihara di konservasi penyu hingga akhirnya nantinya dilepaskan. Perlunya konservasi penyu tersebut dikarenakan penyu sudah sangat langka ditemui disebabkan oleh pemburuan penyu ataupun telur penyu yang kemudian dijual baik untuk dikonsumsi maupun diproduksi sebagai pernak-pernik atau hiasan oleh manusia.
 Pada saat kami mengunjungi konservasi penyu tanggal 14 September 2008, sudah terlihat adanya 2 rumah yang terabrasi oleh air laut yang juga menyebabkan majunya garis pantai (shoreline) sehingga lebih mendekati pemukiman penduduk setempat. Abrasi yang terjadi pada bulan Mei 2008 lalu tidak hanya menyebabkan pemukiman penduduk terseret ombak dan tenggelam, akan tetapi juga menyebabkan pendaratan penyu yang kemudian lebih jauh. Penyu melakukan pendaratan pada dini hari dan meninggalkan telur-telurnya di daratan yang kemudian diambil untuk ditanam dalam pasir di konservasi sedalam kurang lebih 40cm. Dalam waktu 50 hari setelah telur-telur ditanam, kemudian menetas, setelah itu tukik-tukik (anak penyu) akan mendaki keluar dari pasir dan mulai kehidupan baru. Penyu-penyu melakukan pendaratan pada saat tidak ada manusia, karena mereka merasa terancam. Penyu yang sangat jarang bertelur tersebut juga mulai terancam keberadaannya karena para pemburu yang tidak peduli dengan kelangkaan penyu bahkan pada peraturan yang sudah dibuat oleh pemerintah karena alasan ekonomi. Walaupun sudah diumumkan pada papan pengumuman tentang peraturan pemerintah daerah tentang pemburuan penyu, namun tidak membuat para pemburu sadar. Tukik-tukik yang kami temui pada saat itu ada beberapa yang mati karena kurangnya makanan yang tersedia disebabkan tukik tersebut yang seharusnya sudah bisa dilepaskan, akan tetapi diminta oleh pemerintah (BKSDA) untuk tetap berada di konservasi, sementara dalam biaya pemeliharaannya dari pemerintah tidak ada. Dalam penyediaan makanan, bapak Rujito sendiri yang mengeluarkan dana pribadinya untuk membelikan makanan bagi tukik-tukik tersebut. Biasanya tukik yang dipelihara di konservasi oleh bapak Rujito tidak sebanyak itu, hanya sekitar 3 ekor tukik. Karena kendala ekonomi bapak Rujito juga, makanan bagi tukik-tukik tersebut tidak terpenuhi dengan baik, sehingga satu persatu tukik mulai mengalami kematian. Program kami berikutnya adalah membantu penyediaan pakan untuk penyu dan tukik di Pantai Samas. Serta melakukan kegiatan rutin membantu pelepasan penyu ke laut. Tertarik untuk bergabung atau membantu? Silakan hubungi kami... Foto galeri bisa dilihat di halaman ini Berita Terkait Berita Lebih Lama
|